Belajar Menulis dengan Deskripsi Anatomi

MEMPERKAYA DETIL dalam tulisan, kau hendaknya latihan menulis deskripsi anatomi tubuh seseorang. Begitu petuah kiat-kiat menulis yang pernah kudengar dulu. Jika kau seorang laki-laki, yang layak kau deskripsikan adalah tubuh perempuan, jika tak ingin kau dicurigai macam-macam. Atau kalau kau punya daun telinga cukup tebal dengan gosip yang tak jelas, tak mengapa pula jika objek tubuh yang hendak kau deskripsi itu tubuh sesama jenis. Urusan belakangan jangan ambil soal dulu. Yang penting latihan menulis. Yang penting bisa menulis detil.

Untuk mendeskripsikan kecantikan seorang perempuan, barangkali kau bisa mengandaikan organ-organ wajah yang dia punya dengan berbagai pengandaian. Pengandaian dalam hal ini menjadi penting untuk memudahkan pembaca membayangkan bagaimana cantiknya si perempuan yang kau maksud. Ambil contoh, untuk mendeskripsikan bagaimana sempurnanya lengkung alis seorang perempuan. Kau bisa menulis, lengkung sepasang alisnya adalah pedang damaskus. Bangir hidungnya bagaikan ini atau itu. Atau jika tak ada kata-kata yang cocok dalam pengandaian itu, kenapa tidak kau setarakan ia dengan hidungnya orang-orang terkenal, katakanlah Raline Shah atau Sahila Hisyam atau perpaduan keduanya.

Kemudian mata. Mata adalah organ yang paling mudah untuk diekploitasi dalam hal memperkaya detil. Barangkali kau bisa memulainya dengan mendeskripsikan warna pupil mata, apakah segelap langit malam tanpa bintang, atau sewarna coklat yang melumer, dan lain sebagainya. Binarnya matanya juga jangan luput dari deskripsi itu. Begitu pun cara kerja kelopaknya, pula bulunya, cara ia mengerling, dan seterusnya. Perkara mata selesai, coba lanjut lagi dengan pipi. Apakah tembem dan ranum serupa apom seurabi. Atau menyerupai apa saja yang jika kau sepadankan bisa memudahkan pembaca membayangkan.

Turun dari pipi kau boleh meraba bibirnya. Kekayaan kontur bibir mestilah ditulis sedemikian rupa, jangan dilewatkan begitu saja. Biasanya organ yang satu ini punya keterhubungan dengan senyuman, tertawa, bentuk mulut. Tak berdosalah jika kau menggambarkan keseluruhannya dalam satu deskripsi sekaligus. Ambil contoh. Perempuan itu berbibir tipis, dengan garis bukaan antara yang atas dan bawah sedikit memanjang. Hingga ketika tertawa mulutnya akan terbuka lebar, menganga, sampai-sampai kau membayangkan abah kuala (mulut muara) telah berpindah ke wajahnya.

Yang biasa kena sorot dalam penggambaran gigi yang dipunyai seorang perempuan adalah kerapiannya. Jika ada sebiji gingsul, gingsul itu akan masuk dalam sorotan utama. Tapi tak banyak yang menggambarkan kedetilan akan plak yang dipunyai, tahinya, atau tentang kawat gigi yang dipasang secara serampangan. Yang membuatnya melulu mengatup mulut dengan tangannya ketika tertawa.

Di samping organ-organ utama dari wajahnya itu, detil lain yang mestinya perlu dideskripsikan adalah anak rambutnya, bentuk dahinya, tirus dagunya, atau jika ada sebiji dua biji panu di bawah tulang rahangnya, ya kenapa tidak kau jujur saja. Dalam hal ini jujur lebih penting ketimbang caramu mempertahankan kecantikan si objek. Kau tak perlu menyembunyikan panu itu, apalagi jika ianya jelas-jelas tampak dari jarak pandang yang dipisahkan meja kopi, tempat kau mengamatinya sedari tadi. Katakanlah begitu.

Selebihnya apa? Tidak ada. Tapi tunggu apa lagi. Mari menulis saja. Deskripsikkan siapa saja yang kira-kira pantas dan cocok dan sesuai dengan cara kerja khayalanmu. Atau jika tak ada siapa-siapa, kenapa tidak kau mencobanya pada si perempuan yang mendatangi tidur malammu. Perempuan yang berkali-kali telah membuatmu kebasahan ketika bangun pagi. Yang ketika mandi junub, kau menyesalinya dengan gumaman, “Kapankah mimpi itu jadi nyata?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *