Belajar Menulis Bebas: Tamasya Pikiran Pada Kekosongan

AKU INGIN menulis bebas. Mengalir sebebas air sungai dari hulu ke hilir. Mengudara serupa kepak sayap capung. Ringkih. Tapi dengan segenap keringkihan itulah ia mengada. Dan umat manusia mengenalnya, memberinya nama, dan ahli hewani mengudap banyak ilmu pengetahuan atas keberadaannya. Aku ingin menulis bebas. Merdeka. Dan tulisan yang terbaca adalah perayaan dari kebebasan yang ada. Barangkali itu tak semirip perayaan budak belian dari tuannya. Tapi kebebasan patutlah diselebrasi sedemikian rupa, bagaimana pun caranya.

Tamasya. Inilah saatnya mengajak pikiran bertamasya. Atau mungkin membiarkannya bertamasya sendirian saja, dan aku duduk di sini, menghadapi layar putih komputer jinjing sambil menunggu pikiran pulang membawa apa-apa yang dilihatnya. Apa saja yang dilihatnya, oleh-oleh pikiran sehabis pelesiran, kuambil satu-satu, kutimang-timang, kutimbang-timbang. Segalanya adalah bahan baku bagi rangkaian kalimat yang tengah kau baca. Segalanya adalah bahan baku bagi mengadanya sebuah cerita.

Kini aku seperti tak bisa menghentikan jemariku berkedut terus di atas petak-petak huruf di papan ketik. Aku mengetik. Kupungut kata-kata dengan riang gembira. Seperti kanak-kanak memungut mainan baru lalu mengutak-atiknya sekadar ingin tahu. Sementara yang baru pulang dari tamasya tengah beristirahat, mataku mengerjap, pendengaranku menikmati gemeretak suara tombol huruf di papan ketik, ulah jemariku yang tak bisa diam sedari tadi, dan hidungku membaui sesuatu aroma sangit. Aroma bulu terbakar. Benarlah adanya. Rokok di asbak telah membakar bulu ketiak yang ketika menunggu tadi, aku menghabiskan waktu dengan menggunting bulu ketiakku dengan gunting kecil, dimana bebuluan itu kutampung dalam asbak.

Kupikir inilah kebebasan menulis paling purna. Sembari membiarkan jemari mengetuk-ngetuk petak tombol huruf, mata bekerjapan, telinga mendengar bunyi ketukan yang ritmis. Dan aroma yang memenuhi rongga hidungku adalah aroma sangit terbakarnya bulu ketiak sendiri. Harumnya mengalahkan harum tanah kering pada guyur hujan pertama. Patutkah seseorang berdusta atas segala kenikmatan yang ada? Aku tak akan mematutkan diri pada dusta yang seperti itu. Kecuali syukur, itulah kata paling bajik untuk mengalihkan segala hal yang mendekati kata dusta.

Barangkali kau akan bertanya, aku hendak menulis apa? Aku tak hendak menulis sesuatu yang bertema. Aku hanya ingin menulis saja. Dan seperti kusebut berulangkali, aku mau menulis bebas sekehendak hati. Mungkin kau pernah melihat seorang pengembara yang berjalan entah kemana. Hanya sekadar menuruti kehendak mata kakinya belaka. Tak menggunakan mata hati sebagai penunjuk arah, tapi ia terus berjalan. Terus berjalan. Dan tahu-tahu kau mendapatinya sedang beristirahat sejenak di bawah pohon mangga depan rumahmu. Kau bertanya, hendak kemana? Ia menjawab, tak hendak kemana-mana. Kau bertanya lagi, habis dari mana? Ia menjawab pula, baru dari tempat yang entah.

Sampai di paragraf ke sekian, aku mendapati huruf-huruf yang berlarian di layar putih komputer jinjingku berhenti. Tiba-tiba belaka. Jemari yang tadi dengan riang gembira menari di papan ketik mematung. Kaku. Dan pendengaranku sudah tak lagi menyimak ketukan ritmis tombol huruf. Seketika hening. Hanya dua bola mata yang masih menyala. Di asbak, asap rokok yang baunya telah menyaru dalam aroma bulu ketiak terbakar mengepul pelan-pelan, membumbung untuk kemudian menghilang di langit-langit rumah. Inilah saatnya aku menghela nafas dalam-dalam. Inilah saatnya aku mengambil rokok, lantas menghisapnya kembali setelah beberapa menit tersampir di asbak hingga membakar bulu ketiak.

Jika ditanya bila manakah saat-saat paling menenangkan yang pernah kualami? Aku tidak akan menjawab itu berada di sepertiga malam. Tak pula berada di puncak gunung yang tinggi atau di kedalaman palung laut tak berpenghuni. Saat-saat paling menenangkan bagiku adalah saat ini. Manakala aku terdiam sejenak dari proses mengetikku, dan mataku nyalang pada sederet kalimat yang belum usai, masih menunggu tanda titik di penghujungnya. Saat-saat seperti ini, kupikir, adalah puncak kebebasan dari proses menulis bebas. Aku menikmatinya dengan segenap jiwa. Bersenyawa dengan kekosongan yang datang serta merta.

Ada ruang kosong di sela-sela sebuah kata. Ada banyak omong kosong di sela-sela bicara–tapi perlu. ~ Nukila Amal dalam Cala Ibi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *