Beechung, Sarjana yang Enggan Pulang Kampung

BEECHUNG SEORANG sarjana lulusan fakultas ilmu sosial. Sejak selesai kuliah ia memilih tinggal di kota, enggan pulang kampung. Ilmu yang didapatnya di bangku kuliah memang agak susah diaplikasikan dengan kehidupan kampung. Konon lagi jika menyangkutpautkan ilmu yang didapatnya dengan bahasa sehari-hari orang-orang di kampung. Pelik betul. Itu sebabnya ia memilih tinggal di kota, pulang ke kampung halaman setahun sekali, pas hari raya, itu pun tak pernah lama.

Sejak di bangku kuliah Beechung memang seorang mahasiswa aktif. Ia bergabung di banyak organisasi, berlanjut setelah jadi sarjana. Hal yang membuatnya kenal dengan banyak orang. Tempat yang membuatnya bisa bicara banyak tentang teori-teori sosial yang didapatnya di bangku kuliah atau dari buku-buku bacaan. Dunia yang mengasah kemampuan debatnya, baik secara lisan mau tulisan.

Ketika dunia maya menyelusup hingga ke kantong terkecil celana atau baju yang di pakainya. Beechung hidup dalam dua dunia sekaligus. Porsi waktu dalam satu kali 24 jam lebih banyak dihabiskannya di dunia maya. Terutama di laman-laman media sosial, facebook, twitter, instagram, grup chatting, serupa whatsapp, dan lain sebagainya. Saking aktifnya ia di rupa-rupa laman media sosial itu, kesibukannya di sana mengalahkan kesibukan pegawai negeri. Dan jika dibandingkan dengan kesibukan pendiri Facebook, misalnya, maka Marc Zuckerberg akan tampak tak ada apa-apanya.

Jika mau dirata-ratakan, dalam sehari semalam Beechung bisa menghasilkan ratusan ribu kata dari ujung jarinya. Semuanya tersebar dalam bentuk status dan komentar facebook, tweet beserta balasannya, dan caption foto berikut komentarnya pula di laman instagram. Apa yang dihasilkan Beechung dari ujung jarinya itu adalah pernyataan, ungkapan, dan juga tanggapannya. Tentang apa yang sedang trending dibicarakan para netizen lain.

Atas nama rasa keterpelajarannya, lebih-lebih karena merasa banyak tahu tentang teori-teori sosial, ia selalu tampil paling depan untuk membicarakan sesuatu hal. Tentu, semuanya merujuk pada teori ini itu. Untuk kebiasaan yang satu ini, Beechung kerap memulainya dengan menyisipkan satu link berita, kemudian di atas link itu ia menulis pandangannya tentang isi berita yang dibagikannya. Ketika satu media berita online menayangkan berita Satpol PP menangkap sapi bunting yang berkeliaran di satu daerah batas kota, ia dengan sigap menyebarkan link tersebut, lengkap dengan ulasannya sesuai rasa keterpelajarannya.

Begitulah. Berita-berita di media massa berbasis online telah membuat Beechung jadi demikian latah. Semua berita fenomenal tak pernah luput dari ulasan statusnya. Jika ada netizen lain yang tidak sepakat dengannya, sigap saja ia ajak netizen itu berdebat di kotak komentar. Bertungkus lumus ia di sana. Semua jurus teori akan dikeluarkannya. Dan ketika ada netizen lainnya lagi yang sepakat, ia baru merasa sedikit berpuas hati. Begitulah. Ilmu sosial yang didapatnya di kampus dan buku-buku dapat dipergunakannya dengan baik. Beechung merasa puas jadi sarjana, ilmu yang ditimbanya tak jadi sia-sia.

Atas pencapaiannya itu, Beechung sempat berpikir apa jadinya kalau tepat setelah mengambil ijazahnya dulu, ia mau mengikuti anjuran orangtuanya. Pulang kampung membantu usaha jualan ikan asin ayahnya di kota kecamatan. Bisa dibayangkan bagaimana ilmu-ilmu yang menyemat dalam kepalanya akan membusuk keasinan, berkarat. Tak tahu mau menempatkan di mana, alih-alih bisa mengajak ikan asin berdiskusi, dengan yang belinya saja musykil terjadi.

Mengingat hal keadaan itu Beechung jadi merasa rindu pada kedua orangtuanya. Lebih-lebih ketika pesan dari layanan kartu data internet yang dipakainya masuk dan memberitahu, sisa kuota internet anda tinggal 2 MB lagi. Berlaku sampai esok hari. Wajah dua orangtuanya akan langsung tertayang di pelupuk matanya. Terutama ibunya. Orang paling bijaksana dalam menanggapi segala keluh kesahnya setiap akhir bulan. Bulan lewat, keluh kesahnya ia layangkan via pesan singkat. “Mah, bulan ini saya akan ikut pelatihan public speaking. Perlu uang sedikit untuk biaya pendaftaran dan iuran bulanan. Semuanya cuma 6 juta saja. Doain saya ya, Mah.” Begitu keluh kesah Beechung di pesan itu.

Tak sampai tiga hari, pesan itu terbalas dengan suara pesan masuk dari layanan sms banking. Uang telah terisi di rekening. Beechung girang minta ampun. Sementara itu, di kampungnya, di satu kios dekat pasar ikan kota kecamatannya. Keringat ayahnya terasa lebih asin dari sejumlah ikan asin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *