Bagaimana D. T. Vagimbing Ungkapkan Cinta Pada Pamela

DONAT TRAM VAGIMBING. Masih ingat? Syukurlah kalian ingat. Aku hampir saja lupa padanya kalau tidak bertemu dengan Pamela, bakal calon istrinya kemarin siang. Itu pertemuan yang tidak disengaja pada sebuah kedai kopi seputaran Peunayong.

Aku yang sedang ngopi dengan istriku selesai belanja mingguan di Jalan Kartini disapa oleh seorang gadis, cukup membuat istri bermuka asam jawa pada kali pertama. Tapi setelah tahu kalau yang menegur adalah Pamela, cepat-cepat buah asam jawa yang nangkring di muka istriku berganti dengan buah srikaya. Manis seperti biasanya.

Melihat Pamela aku langsung ingat, Donat Tram Vagimbing. Temanku, satu-satunya temanku yang setelah jadi sarjana berani ambil keputusan bekerja sebagai peternak kambing. Oleh sebab kesibukan masing-masing sudah lama juga aku tak bertemu dengannya, mungkin sudah tiga kali pasang empat belas di kuala Lampulo.

Tentu saja berjumpa dengan Pamela siang itu membuatku ingin cepat-cepat tanya kabar Vagimbing padanya. Mengingat sejak terakhir aku bertemu dengannya ia mengaku sudah menjalin hubungan serius dengan gadis yang sedang duduk di depan aku dan istriku sekarang ini. Dan tiba nama Donat Tram kusebut (embel-embel Vagimbing masih agak rahasia buat dia), Pamela langsung nyerocos. Panjang.

Sampai-sampai istriku yang merasa tak ada sangkut pautnya dengan jalin kisah asmara mereka berdua memilih bergadget ria. Sambil sesekali tersenyum dan menatap mata Pamela lekat-lekat ketika ia meminta persetujuan istriku untuk pernyataan-pernyataan tertentu dengan kalimat, “Iya kan, kak?”

“Jadi Bang Donat ga cerita apa-apa nih ke abang?” Tanya Pamela ke aku setelah bercerita ihwal Vagimbing dan dirinya memilih jeda sebentar dari jalinan asmara mereka. Ketika aku menggeleng, langsung saja Pamela mengarahkan pembicaraannya ke istriku dengan mengatakan, “Tuh kan, kak. Cowok memang gitu ya? Ga ada perhatian dikit pun sama ceweknya. Maunya ada kek dia ngomongin kita sama teman dekatnya.” Istriku lagi-lagi tersenyum dan menimpali ala kadarnya saja. 

Lantas tanpa tedeng aling Pamela cerita kalau ia dan Vagimbing sepakat untuk break sejenak dari  hubungan asmara mereka. Menurut Pamela, itu jeda dalam artian sama-sama berdiam diri dulu untuk waktu sebulan dua bulanan saja setelah keduanya cek cok satu sama lain. Mendengar cerita Pamela tentang jeda ini persis seperti jeda kemanusiaan zaman konflik bersenjata di Aceh dulu.

Kata Pamela, ihwal cek cok mereka hanya gara-gara kawat gigi. Memang, Pamela yang duduk di depanku kali ini adalah Pamela berkawat gigi. Beda dengan  Pamela yang dulu pertama diperkenalkan Vagimbing padaku.  Giginya terlihat rapi kecuali satu gingsul di deret gigi atas sebelah kiri.

Bagi Vagimbing, ketika ia menceritakan ihwal kesukaannya pada kontruksi wajah Pamela, gingsul itulah harta karun paling berharga paras kekasihnya. Selain pipinya yang tembem seperti pantat alpukat, alisnya yang memiliki lengkungan pedang damaskus, ditambah bangir hidungnya adalah sama harta karunnya dengan gingsul yang Pamela punya.

Masih menurut Vagimbing, jika pun ada hal yang sedikit (benar-benar sedikit) membuat cela semua harta karun di paras Pamela. Adalah dagunya yang agak sedikit (sesedikit kata sedikit, begitu penekanan Vagimbing waktu itu) bersiku. Tapi itu semua tertutupi sempurna dengan kecerdasan, keterbukaan, dan cara bergaul Pamela yang mudah menyesuaikan diri dengan keadaan apa pun.

“Jadi Vagimbing ga setuju kalau kamu pakai kawat gigi?” Tanyaku pada Pamela.

“Ga setuju, Bang. Cuma yang bikin aku sakit hati bukan ketidaksetujuannya. Tapi komentarnya.”

“Memangnya dia komentar apa?”

“Kambingku saja gak pakai kawat gigi,” jawab Pamela menirukan perkataan Vagimbing padanya.

“Masa aku disamakan dengan kambingnya? Sudah benar aku sakit hati kan, kak. Mana kambingnya itu bikin jadwal kencan kami batal berkali-kali lagi,” tambah Pamela.

Istriku tertawa ngakak. Pamela cemberut ketika mengatakan itu, tapi sambil ngakak juga. Aku tersenyum-senyum sendiri, sebab sudah tahu benar watak Vagimbing. Suka blak-blakan ketika memberi komentar pada kali pertama. Tapi kemudian menyesal sendiri ketika pikirannya sudah bekerja pada tempatnya.

“Kamu jawab apa waktu itu?” Tanyaku lagi.

“Ya kujawab saja,” lanjut Pamela, “Dasar manusia kambing. Tahunya cuma soal kambing. Orang Ketua DPRK saja pakai kawat gigi. Kau masih bengak kayak kambing.”

Giliran aku yang ngakak. Istriku sudah tak lagi memegang gawainya. Kecuali ngakak dan terlibat dalam cerita Pamela bersoal kekasihnya dan kemudia bertanya, “Tapi Pamela masih cinta kan sama dia?” Ini pertanyaan yang membuat Pamela tersipu. Pipi pantat alpukatnya, meminjam istilah Vagimbing, ranum kini.

Tanpa menunggu jawaban Pamela, mungkin memanfaatkan keceplas-ceplosannya, istriku nanya lagi. “Waktu ungkapin cinta ke Pamela, Bang Donat ngomong gimana nih? Cerita dong.”

“Ihh.. kakak ni. Masa nanyanya kek gitu?”

“Gak maksud buat ngorek-ngorek kemesraan orang kok, Mel. Cuma kayaknya sifat cowok itu bisa ditebak dengan cara dia ungkapin cinta pertama sama si cewek,” terang istriku meyakinkan Pamela. Kalau sudah begini, aku tahu betul, istriku bakal pegang kendali.

“Gimana, Mel?” Kejar istriku lagi. Pamela ragu. Aku pura-pura tak mendengar, pandangan kualihkan keluar kedai kopi. Meja kami senyap sebentar. Kurang dua menit saja. Lalu setelah merasa reda panas pipinya, Pamela menghela nafas dan bercerita.

“Sebenarnya gak romantis-romantis amat kak. Pertama Bang Donat cuma bilang ke aku, kalau dia pernah menanamkan tekad dalam hati. Bahwa ia akan merasa gagal hidup jika terjadi dua hal dalam hidupnya. Terus dia bilang lagi, sejak dia kenal Pamela, yang dua hal itu bertambah jadi tiga. Kan aku penasaran, kak. Langsung aja kutanya pada Bang Donat, memangnya apa yang tiga hal itu.”

“Memangnya apa?” Aku dibuat penasaran juga. Vagimbing bisa ngomong masalah kehidupan. Mana ada sok-sok falsafati lagi, ini benar-benar di luar dugaanku.

“Bang Donat bilang, tiga hal yang bikin dia merasa gagal hidup itu, kalau: Pertama, tidak pernah pacaran selama tinggal di Banda Aceh. Kedua, dijodohkan. Ketiga, kalau tidak memperistri Pamela. Aku malu sekali waktu itu, kak. Tapi ada senangnya juga,” kenang Pamela sambil terkekeh.

Apalagi, lanjut Pamela, waktu Bang Donat bilang begini, “Karena aku tidak mau merasa gagal dalam hidup. Sudikah kau menolongku untuk menghapus ketiga sebab musabab gagal hidupku itu?”

Pamela tersipu lagi. Istriku terpelongo, bibirnya membentuk huruf o, beberapa kali menoleh kearahku. Aku mengumpat. Vagimbing. Dasar vagina kambing, celaka betul dia orang.[]

 

Image source: pexels. pexels.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *