Atas Nama Free Wi-fi

SELEPAS SMONG, Banda Aceh dibanjiri kedai kopi dengan layanan jaringan internet gratis. Boleh dikata, di luar dari perkara-perkara pilu disebabkan bencana maha dahsyat itu, smong meninggalkan jejaknya akan kesadaran orang-orang (terutama para pekerja NGO) akan pentingnya jaringan internet. Yang oleh para pemilik kedai kopi menjadikannya sebagai satu cara memikat pelanggan, hingga sejak saat itu jaringan internet tidak lagi dimonopoli warung internet.

Hingga kini layanan free wi-fi telah menjadi andalan bagi setiap pemilik kedai kopi. Jika mau disurvey acak, kalau ada 11 kedai kopi yang ada di Banda Aceh, cuma dua yang tidak memakai jaringan internet gratis. Sisanya sudah barang tentu menjanjikan free wi-fi, terserah jenis kedai kopi itu mengusung gaya cafe-cafe kekinian. Atau masih bergaya ala lama yang isi kedainya cuma berisi meja dan kursi dan dapur meracik kopi dan meja kasir, tanpa tetek bengek artistik lainnya.

Layanan kedai kopi yang demikian tentu saja menjadi salah satu rahmat terbesar bagi pemegang smartphone tanpa pemasukan tetap. Ketika tak memiliki kuota internet mereka tinggal pergi di kedai kopi terdekat. Pesan sepancong kopi, lalu bisa duduk seharian sambil berpuas diri berselancar atau beraktifitas di dunia tanpa bentuk, melalui ponsel pintarnya. 

Untuk ukuran zaman ini, lebih-lebih bagi orang-orang yang bermata pencaharian di dunia maya, jaringan internet adalah wajib. Itu sebabnya tempat-tempat publik selain kedai kopi sudah mulai menyediakannya, apakah itu di bandara, di taman, kantor pelayanan pemerintah, dan lain sebagainya. Pokoknya tempat-tempat publik paling digemari orang banyak dewasa ini adalah tempat yang menyediakan koneksi jaringat internet tercepat. Tidak terkecuali pula dengan tempat destinasi wisata.

Bahwa tempat wisata paling ramai dikunjungi para turis (terserah lokal atau interlokal) kekinian adalah tempat-tempat yang memiliki akses internet. Agar mereka bisa ber-snaphgram ria, dan lain sebagainya.

Fenomena kebutuhan jaringan internet bagi kehidupan sekarang, telah mendudukkan seasing-asing tempat adalah yang tidak memenuhi kebutuhan tersebut. Barangkali itulah yang ditangkap oleh seorang kartunis ternama dunia asal Amerika, Mike Luckovich, dalam satu karyanya. Bahwa musabab gereja telah menjadi asing di tengah-tengah umat Kristen di Amerika, (mungkin) hanya gara-gara tidak menyediakan layanan free wi-fi hingga mulai ditinggalkan oleh para jamaat, alih-alih mendapat perhatian bagi domba-domba sesat.

Kita di Aceh yang sebagian besar penduduknya adalah muslim terasa lebih beruntung karena masjid-masjid atau meunasah-meunasah masih tetap berisi setiap waktu ibadah wajib. Meski puncak penuh sesak rumah ibadah kita adalah di waktu-waktu sunat belaka. Seperti pada perayaan maulid nabi, shalat jamaah tarawih di bulan puasa, dan shalat sunat Idul Fitri dan Idul Adha.

Hingga keberuntungan ini (apakah bisa disebut keberuntungan?) tidak membuat para kartunis Aceh seperti Idrus bin Harun, Tauris Mustafa atau Tu-ngang Iskandar. Mesti bertindak selayaknya kerja Mike Luckovich di Amerika dengan karya-karya satir mereka menyangkut keterasingan masjid di tengah-tengah muslim/muslimah Aceh semua. 

 

Images source: 1, 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *