Argentina Kalah, Akhir Lebaynya Seorang Jorge Sampaoli

PRANCIS MENANG 4 – 3 atas Argentina. Skor besar begitu rupa seperti melengkapi partai besar ini. Cukup bikin puas penonton yang tidak mendukung dua tim ini sebagai juara nantinya. Gol-gol yang tercipta berikut prosesnya sepanjang 95 menit pertandingan benar-benar menjadi hiburan. Dua tim yang bertanding benar-benar bermain sesuai standar turnamen olahraga terbesar sejagad. Piala Dunia 2018 Rusia.

Meski Argentina dan Prancis sama-sama bermain agak melempem di fase grup, tapi di pertandingan tadi keduanya menunjukkan permainan kelas juara dunia. Argentina memegang penguasaan bola terbanyak. Tapi Prancis mampu mencetak gol lebih, dengan memanfaatkan kecepatan Kylian Mbappe sebagai tumpuan strategi serangan baliknya. Terbukti ia mencetak dua gol dan penalti yang membuahkan gol pun terjadi karena pelanggaran bek Argentina terhadapnya.

Menyimak jalannya pertandingan tadi. Tampak betul Argentina kekurangan pemain bertipe petarung di lini tengah. Kendati banyak menguasai bola sepanjang pertandingan, penguasaan lapangan tengahnya boleh dikata dikuasai Prancis. Seperti biasa, penyerangan Argentina melulu bertumpu kepada Lionel Messi seorang. Ini berkat strategi Jorge Sampaoli yang dari pertama ia ditunjuk melatih Argentina sudah mewanti-wanti bahwa tim asuhannya harus bermain untuk Messi. Bukannya Messi bermain untuk Argentina.

Barangkali inilah bentuk ke-lebay-an paling mutakhir seorang pelatih tim nasional terhadap seorang pemain bintang. Dengan menjadikan Messi sebagai pemain sentral yang tak tergantikan. Padahal di bangku cadangan ada nama-nama yang tak kalah menterengnya. Paulo Dybala dan Higuain salah duanya. Seolah-olah Sampaoli hendak mengatakan kepada Messi seperti berikut ini.

“Jangan risaukan apa yang bisa kau berikan terhadap negara, tapi tanyakan apa yang dipersiapkan negara untuk membesarkan namamu.”

Lini tengah Argentina pun sama punya celanya. Keasyikan menguasai bola sepanjang pertandingan, membuat lini ini abai bahwa tugas sebagai benteng pertama ketika ada serangan balik. Penguasaan lini tengah Argentina terlalu berharap banyak kepada Mascherano yang sudah tampak uzur begitu menghadapi Kante, Pogba, dan acap kali juga dikuntit oleh Matuidi. Banega dan Perez tampak terlalu sibuk fokus menjaga aliran bola kepada Messi.

Maka kenikmatan apakah yang mau dilewatkan seorang pelari macam  Mbappe ketika punya kesempatan tunggang langgang membawa bola. Tanpa pengawalan para gelandang lawan sejak dari tengah lapangan. Gol pertama dari titik putih terjadi berkat kesadaran Mbappe akan kenikmatan solo run tanpa pengawalan berarti. Ini dilakukannya beberapa kali setelahnya. Yang kemudian Pogba pun beberapa kali ikut-ikutan melakukan hal serupa dengan gayanya yang rada-rada mellow pukimak tapi menggemaskan itu.

Terlepas dari itu semua. Mungkin Argentina harus menunggu Maradona mati terlebih dahulu untuk bisa kembali menjuarai Piala Dunia. Itu tak lain karena hampir semua pemain bintang Argentina akan tampak keder sendiri ketika pertandingan itu ditonton langsung oleh nama besar yang belum mati itu. Messi bukanlah yang pertama. Ariel Ortega pernah merasakan kekederannya. Pablo Aimar juga. Martin Palermo apalagi. Entah siapa lagi nanti.

 

Images source: google.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *