Antara Tukok, Lupieng dan Tulo Dara

SEMUA AKAN ajal pada waktunya. Kata Tukok pada Lupieng, di suatu petang bulan Juli yang sibuk oleh sebab angin datang dan bertiup kencang dari arah Lam Lumpoe, Peukan Bada. Lupieng mengangguk cepat mendengar perkataan teman sejawatnya, lantas balik bertanya, “Di antara kita berdua siapa yang lebih duluan ajal kira-kira?”

“Aku tak pernah memikirkan kapan waktu itu akan tiba dalam keadaan payah seperti ini,” sahut Tukok.

“Itu maksudnya, kau mau bilang biarlah aku duluan mati dan kau belakangan. Begitu?”

“Tidak juga. Aku hanya ingin mengatakan bahwa biarlah ajal atau mati atau maut datang dengan sendirinya. Alamiah saja. Kenapa harus berpusing-pusing memikirkannya, toh, waktu ajal adalah misteri paling agung yang membuat ilmu pengetahuan merasa dungu sendiri ketika berhadapan dengannya, konon lagi yang udik seperti kita ini,” kilah Tukok.

“Tapi bukankah kau yang pertama mengungkit-ungkit masalah ini tadi?” tanya Lupieng lagi.

Tukok hendak menjawab lagi, sekadar membela diri. Tapi tepat ketika mulutnya terbuka, Tulo Dara datang menghampiri mereka berdua, dan jawaban pembelaannya pada Lupieng urung dikatakan. Kecuali tersangkut di pita suara hingga ia tersedak sendiri. Lupieng juga menyadari kedatangan Tulo Dara, demi mencium bau yang serupa aroma batu bata di perapian.

Tukok dan Lupieng adalah sejawat tua. Keduanya lahir dan tumbuh besar pada waktu dan tempat yang sama. Berbeda halnya dengan Tulo Dara yang datang belakangan, dan kemudian entah setan apa, ketiganya terlibat dalam sebuah pertemanan yang aneh. Tulo Dara lebih muda puluhan tahun dari sejawat itu. Tapi tiap kali ikut nongkrong dengan Lupieng dan Tukok ia selalu bisa menyejajarkan diri dalam hal apa pun, terutama pada setiap topik pembicaraan.

Bagi Tukok sendiri kedatangan Tulo Dara yang kemudian masuk dalam lingkar pertemanannya dengan Lupieng adalah buah kesabaran juga ketulusan keduanya. Pertemanan adalah pertemanan. Tanpa harus diberi embel-embel sebab musabab, karena yang begitu itu hanya akan merusak jalinan pertemanan belaka. Keberadaan Tulo Dara sejak beberapa pekan ini, adalah ketentuan Tuhan yang patut disyukuri. Paling tidak gadis muda itu sedikit memberi warna dan benar-benar bisa menghapus kemonotonan pertemanannya dengan Lupieng.

Lupieng memandang kehadiran Tulo Dara di tengah-tengah kelindan persahabatannya dengan Tukok dari sudut pandang lain. Bahwa yang paling penting untuk dikaji sebelumnya adalah motif di sebalik kedatangan Tulo Dara. Ia menakar atau lebih tepatnya berprasangka bahwa ada maksud-maksud agak rahasia yang diemban Tulo Dara, sebab kalau bukan itu, mana mungkin ia yang masih gadis begitu mau berbaur tiap hari dengan mereka. Konon lagi keduanya sudah berkeriput begini oleh sebab kelebihan umur ketimbang umur Tulo Dara sendiri.

Tukok dan Lupieng pernah membahas perbedaan cara pandang masing-masing tentang kehadiran Tulo Dara. Tentu pembahasan ini berlangsung tanpa sepengetahuan objeknya. Itu terjadi pada pekan pertama sejak kedatangan si objek yang masih bening akan kemudaannya. Dan keduanya menemukan kengototan diri mereka sendiri dalam mempertahankan argumennya. Lupieng menuduh Tukok sebagai seorang tua yang gampang semaput. Sementara Tukok mengata-ngatai Lupieng tak tahu diri.

“Kau sudah tua bangka begini.¬†Bukannya bersyukur, malah berburung sangka begitu. Gadis semuda Tulo Dara ngapain harus dicurigai seperti itu coba?” Begitu kata Tukok pada Lupieng waktu itu.

Itulah kali pertama pertemanan Lupieng dan Tukok goyah dalam sebuah perbedaan. Keduanya mengakui akan hal ini, tapi cuma sebatas memendam dalam hati tanpa membahasnya lagi secara lebih terbuka. Tulo Dara hadir di tengah-tengah mereka sebagaimana biasanya, seperti petang ini ketika Tukok dan Lupieng tengah membicarakan ajal di sebuah kedai kopi dekat rumah kontrakan yang sejak dua bulanan ini mereka tinggali.

“Lagi bahas apa ni? Serius amat!” Cerocos Tulo Dara penuh selidik setelah duduk di samping Lupieng.

“Apalagi yang dibicarakan orang tua seperti kami kecuali menebak-nebak kapan waktunya malaikat maut datang pada kami,” sahut Lupieng.

“Bukannya sejak dinyatakan buron, kalian berdua sudah mati ya?”

Tukok tercekat. Lupieng pun sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *