Antara Aliou Cisse dan Joachim Loew

ALIOU CISSE pelatih tim nasional Senegal. Joachim Loew, Jerman. Di antara keduanya terhimpun segala jarak. Persamaan antara keduanya hanya berpaut di sepakbola. Yang dalam Piala Dunia 2018 Rusia, keduanya sama-sama melatih tim negara masing-masing, tapi cuma untuk mengisi pertandingan-pertandingan di fase grup saja.

Kecuali bertaut di dunia sepakbola, selebihnya adalah beda yang menganga. Lebih-lebih kalau diperbandingkan jumlah gaji yang didapati selama menjadi pelatih tim nasional masing-masing. Jarak pendapatan Loew dan Cisse, boleh dikata menga-nga selebar akumulasi nga-nga mulut seluruh penduduk Senegal beserta turis yang datang kesana.

Seperti dilansir beberapa situs berita tentang jumlah gaji pelatih di Piala Dunia 2018 Rusia, Cisse memperoleh Rp300-an ribu per 60 menit ia bernafas sebagai pelatih Senegal. Bandingkan saja gaji Loew yang selama menjabat pelatih tim Jerman mendapat jatah Rp250-an ribu setiap menitnya. Itu sudah termasuk gaji ngupil dan korek ‘taik buah’ yang kerap dilakukannya selama memimpin pertandingan-pertandingan penting.

Biar tak pusing-pusing menghitung pendapatan dua orang yang tak begitu penting dengan kehidupan kita sehari-hari ini. Gaji Loew senilai 66,3 milyar rupiah setahun. Sementara Cisse kebagian Rp3,3 milyar per tahunnya. Yakin saja, jumlah ini akan didapatkan juga oleh para steemian semua, tinggal kita berdoa saja harga Steem atau SBD melonjak naik tahun ini juga.

Pokoknya untuk urusan gaji pelatih pada piala dunia kali ini, Cisse menempati posisi pelatih bergaji terkecil. Sementara Loew pelatih termahal. Kalau urusan ini bisa dimaklumi, mengingat ia pelatih juara bertahan, yang empat tahun sebelumnya sukses membawa Jerman menjuarai piala dunia ke empat kalinya. Setelah mengalahkan Argentina (lagi-lagi gagal Messi) dengan skor 1 – 0 di Stadion Maracana, Brazil.

Terlepas dari banyak perbedaan Loew dan Cisse, kesamaan keduanya di Piala Dunia adalah sama-sama pulang lebih awal setelah menyelesaikan semua pertandingan di babak penyisihan. Hanya saja Joachim Loew mengemas koper kepulangan dengan kepala tertunduk, mungkin penuh penyesalan.

Sebaliknya dengan Cisse. Pelatih gimbal ini mesti pulang oleh aturan FIFA yang (sepertinya) kian tahun kian membuat sepakbola jadi olahraga cengeng dengan peraturan-peraturan barunya. Apakah itu menyangkut fair play. Atau tentang pengawasan jalannya pertandingan yang sudah tak lagi mengandalkan pengamatan wasit tengah dan hakim garis semata. Tapi juga telah melibatkan kamera canggih.  Ihwal kenapa sepakbola akan kehilangan kesan magisnya, menggerus sisi-sisi dramatik.

Dengan video assistant referee, misalnya, mungkin sudah saatnya gol tangan tuhan Diego Maradona mesti dihilangkan dalam sejarah sepakbola dunia. Tapi bukankah kemagisan sepakbola terletak pada skandal dan drama selama pertandingan berlangsung?

Padahal jika dikira-kira gezah sepakbola tidak hanya terletak pada seberapa hebat materi pemain dalam satu tim. Tapi juga ditopang oleh cerita-cerita lain yang pernah terjadi di lapangan. Seperti betapa brutalnya tendangan kungfu Eric Cantona terhadap penonton yang mengejeknya di Liga Inggris dulu.  Atau seberapa emosionilnya para pemain Italia ketika gol bersih Tommasi dianulir wasit Byron Moreno saat melawan tuan rumah Korea Selatan pada partai 16 besar Piala Dunia 2002. Semuanya telah memberi warna tersendiri dunia sepakbola.

Tapi warna-warni Piala Dunia kali ini adalah makin banyaknya penghentian jalannya pertandingan. Hanya karena wasit harus terlebih dahulu ‘menonton televisi’ di pinggir lapangan. Dan keputusan-keputusan telat seorang wasit oleh sebab hasil tontonan kerap membuyarkan sisi dramatis sepakbola. Bahkan bumbu dawa-dawi penontonnya di televisi kedai kopi telah tak awet lagi, sekali seduh langsung basi. 

 

Images source: gettyimage

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *