Angin Buruk Bulan Juli

HUJAN TURUN. Rintik. Angin berkesiur. Kadang kencang menyerupai badai, kadang pelan, lalu menghilang begitu saja. Kemudian datang lagi dengan lajunya yang kencang seperti pertama, membuat pucuk pohon kelapa di samping rumah terangguk-angguk, persis anggukan seorang pesakitan yang sedang kena ceramah bos tempatnya bekerja.

Angin kencang atau pelan ternyata sama saja. Keberadaannya membawa dingin yang menyemat di kulit, pori-pori meremang, dan bebuluan tegak dengan sendirinya. Bagi pengidap polip plus sinusitis, dingin yang dibawa angin tak menentu ditambah hujan yang jadwal turunnya serba tak jelas begini, adalah perihal yang membuat segala kejengkelan tumbuh. Ia menderita oleh sesuatu yang di balik tulang pipinya menggelegak, hidungnya sumbat, hingga mau tak mau ia mesti bernafas dengan mulutnya belaka. Yang sudah tentu akan sangat menyusahkannya ketika hendak makan atau berbicara.

Seekor kucing yang tengah kebelet berak atau sedang terburu-buru hendak buang hajat sama menderitanya dengan si pengidap polip plus sinusitis tadi. Hujan telah membuat debu atau pasir di halaman rumah menyatu dengan kebecekan tanah. Tak ada bahan dasar untuk menutupi jejak busuknya, dan ia mengeong-ngeong sendiri sambil mengamati tempat alternatif bagi hajatnya yang mungkin sudah sangat mendesak itu. 

Kucing tahu benar bahwa ketentuan hidupnya adalah mengubur beraknya sendiri. Tapi kini keadaan telah memaksanya untuk berlaku cabul, dan mesti mengalamatkan hajatnya itu di sudut teras rumah orang, satu-satunya tempat kering dalam radius daerah kekuasaannya selama ini. Lantas ia melakukannya dengan penuh sesal. Batinnya menderita tepat ketika ia mengedan pada kali pertama. 

Kencang lagi angin bertiup. Hujan jeda. Dahan mangga berderak. On keureusong (daun pisang kering) krasak-krusuk. Bunyi kesiur angin yang juga meluruhkan daun sukun tua dari rantingnya, terdengar panjang di telinga dan telah sekian menit lamanya belum juga menemukan tanda wakaf. Selain membawa hawa dingin dan bunyi kesiurnya yang panjang, angin kencang malam ini juga membawa aroma lumpur. Harumnya serupa aroma air keruh di hulu sungai yang menderas membawa kabar banjir ke hilir.

Lalu seperti kusebutkan semula, angin kencang berubah pelan dengan serta merta. Lantas menghilang untuk waktu yang tak begitu lama. Setidaknya mampu membuat suasana jadi setenang hati seorang sufi. Meski kemudian dalam keberulangan laju kencangnya yang nyaris badai itu, grasa-grusu yang diciptakannya menyerupai hati seseorang yang sekonyong-konyong ketiban kasus korupsi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *