5W 1H & Kebingungan Bikin Berita Bernarasumber Politikus Bebal

SEWAKTU JADI juru kabar di salah satu media online-tak online Aceh yang sekarang sudah tak tahu kemana oleh sebab keambisiusan pemiliknya. Menulis berita adalah tuntutan jika tak ingin disebut kewajiban. Berbekal surat magang—dari pertama masuk dan hingga keluar, entah kenapa aku tak punya sebiji pun kartu pers—aku belajar sekaligus berlatih menulis setiap hari. Menulis berita tentu saja. Mulai dari berita harga emas, kecelakaan lalu lintas, bencana alam, harga cabai, kekerasan terhadap anak, sampai berita politik yang notabene narasumbernya suka beri pernyataan tak sesuai konteks pertanyaan yang kuajukan.

Untuk ukuran menulis berita, terutama jenis berita langsung (straight news), boleh dikata gampang-gampang susah. Gampang jika berita dimaksud cuma sebatas laporan harga-harga atau kejadian-kejadian tertentu. Formula 5W 1H (what, who, when, where, why, dan how) dengan mudah diaplikasikan.

Setidaknya, sebagaimana pengalaman dulu, aku bisa dengan mudah menyelesaikan berita-berita sejenis straight news. Tentu ini pun setelah semingguan lebih latihan, intens, tanpa jeda barang sehari. Tapi yang paling memusingkan kepala. Ini harus kuakui dengan banyak penyesalan dalam hati. Penempatan formula 5W 1H akan sangat bermasalah bagiku ketika berhadapan dengan narasumber dari kalangan politikus. Terutama para anggota dewan yang matanya cuma terbelalak ketika menandatangani faktur atau kwitansi atau bon atau invoice pencairan uang. Di sinilah letak kesusahannya.

Lepas mewawancarai mereka, formula 5W akan langsung bisa kelar dalam hitungan 5 atau 7 menit. Untuk urusan itu aku tinggal mengetik beritanya tentang apa. Kejadiannya di mana. Kapan. Siapa. Kenapa. Tapi ketika sampai pada urusan bagaimana (how), kerap narasumber memberi pernyataan ngawur seenak kepala kosongnya belaka. Menyembunyikan ketidaktahuan mereka dengan banyak kilah. Atau jika pun sedikit paham, mereka hanya akan menjawab dengan pernyataan-pernyataan klise. Mengulang-ulang apa yang sudah banyak orang tahu.

Pernah aku mendatangi seorang anggota dewan untuk mengkonfirmasi sas-sus pengadaan daster dalam program dana aspirasinya. Si anggota dewan malah memberi pernyataan tentang kondisi rumah sekolah di pedalaman Aceh Utara. Ia miris dengan kondisi itu. Ketika kuulang lagi tentang daster itu, ia balik bertanya, “Apa kamu sudah minum kopi hari ini?” Kujawab sudah dan sekali lagi kuulang pertanyaan semula. Ia menatap mataku lekat. Lalu merogoh kantong celananya, ambil handphone, lantas sembari mengupingi alat komunikasi seri terbarunya, setengah berteriak ia berkata, “Halo. Iya. Saya langsung kesana sekarang.”

Begitulah. Beberapa kali pengalamanku mewawancarai para anggota dewan terhormat di kantornya. Berita yang ingin kutulis kerap berujung pada dua hal saja. Pertama, beritanya tak jadi kutuliskan. Kedua, beritanya tayang. Tapi tak memuat satu pun pernyataan si anggota dewan dalam bentuk kutipan langsung. Kenapa begitu? Sekali lagi, dengan penuh penyesalan mesti kuakui. Bahwa kedunguan dan kebebalan beberapa anggota dewan itu, mengharuskanku mempermak sedemikian celaka pernyataan-pernyataan mereka agar sesuai konteks. Hingga jika dibaca sepintas, kedunguan mereka tersembunyi di balik kalimat-kalimat klise, yang bikin muntah para pemerhati berita jika mereka mengulik berita tersebut baik-baik.

Waktu itu ada sebulanan lebih aku diwajibkan mencari berita di kantor anggota dewan. Pekan pertama hingga pekan kedua, agak senang mengemban tugas di sana. Dari pagi sampai sekira pukul empat sore aku bisa membuat tiga, atau bahkan kadang sampai empat berita. Tapi rasa muak datang juga ketika masuk hitungan minggu ketiga. Kupikir, terus-terusan mempermak pernyataan para anggota dewan bebal akan bikin aku ikutan bebal.

Aku mengajukan mundur dari post kantor dewan pada orang-orang redaksi. Orang redaksi menolak. Hal yang kemudian membuatku bersiasat. Tidak lagi menulis straight news. Melainkan mencoba menulis berita dengan gaya bercerita. Panjang-panjang. Yang bikin susah redaktur desk politik, karena harus memangkas berita panjang-panjang itu jadi dua atau tiga berita.

Benarkah para anggota dewan kita banyak bebalnya? Tidak. Tapi dengan banya syarat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *