Tentang Geulaseue

GEULASEUE. Pernah dengar? Ini kata bahasa Aceh yang sampai paragraf pertama ini aku agak bingung artinya dalam bahasa Indonesia. Telah kutanya pada beberapa orang yang kuanggap punya otak kamus, tapi mereka menggeleng. Bahkan seorang Diyus sekalipun berkali-kali mengernyitkan jidatnya ketika kutanya arti kata geulaseue dalam bahasa Indonesia.  Setelah beberapa kernyit, setelah dikata ia belum pernah dengar kata tersebut, ia tanya apa itu geulaseue? Kujawab, geulaseue adalah lukuep yang maha banyak.

Continue reading “Tentang Geulaseue”

Hallo Kembali

SEPEKAN LEWAT ALPA. Aku ada lagi. Di steemit. Di blog pribadi. Setelah berhari-hari membiarkannya tak terisi oleh sebab beberapa urusan yang membuatku jadi paham mengartikan frasa ‘sok sibuk’ sebagaimana yang sering dikata orang-orang. Aku akan mengudara lagi. Membiarkan pikiranku melayang-layang lagi kemana ia suka seperti yang sudah-sudah. Mengudara sambil belajar berhitung. Belajar menghitung jumlah kata, sekaligus belajar memadu-padankan kata hingga jadi kalimat, jadi paragraf, jadi tulisan. Meski ujung-ujungnya tak ada yang membaca.

Continue reading “Hallo Kembali”

Cerita Kecil: Tali Jemuran

DI TALI JEMURAN. Yang luaran dan dalaman hendak terbang. Ingin ikut angin. Mengembara kemana saja. Asal tak lagi melekat di tubuh manusia. Keringat telah membuat mereka lepek, apek, derita tak tertanggungkan sejak keluar dari pabrik. Bukan itu saja. Ada banyak hal yang bikin pakaian luaran atau dalaman merasa durjana sendiri. Tak berperi. Terutama ketika tahu kebanyakan manusia telah menjadikan mereka sebagai alat untuk menyembunyikan segala keculasan, kecurangan, pula tipu muslihat.

Pada sepasang tiang, tali jemuran tampak ogah-ogahan. Kebosanan maha dahsyat menyerangnya. Hari-hari yang dilaluinya adalah tanggungan beban yang itu-itu saja. Meski tiap seminggu atau sebulanan atau tahunan yang luaran dan dalaman itu berubah-ubah warna. Perihal yang membuatnya sangat bersuka cita pada kali pertama, ketika secara tak sadar ia bisa tahu nama-nama banyak warna. Tapi suka cita yang dialami tali jemuran itu singkat saja. Sebab sesudahnya ia tahu betul bahwa dua ujung temali yang dimilikinya telah tersimpul permanen di sepasang tiang itu. Selamanya ia terjerat di situ. Mati berkali-kali.

Kali waktu yang lain seorang tukang cuci menghadap tali jemuran dengan memburai air mata. Ada ribuan duka di wajahnya. Tak tertaksir satu-satu, tapi air mata itu kian membandang manakala tangannya mengangkat dalaman majikan prianya dari keranjang. Untuk disampirnya di tali, ia menangis menjadi-jadi. Ia ingat dalaman pribadinya disobek paksa. Lantas isi dalaman majikannya menyobek satu-satunya harta paling berharga yang di milikinya. Kali ini tidak dengan cara memaksa. Melainkan dengan ancaman yang membuatnya serasa sudah kehilangan nyawa bertahun-tahun sebelum ia lahir ke dunia.

Hanya terik matahari yang menyaksikan segala kedukaan yang ada di tali jemuran itu. Sekadar menghibur ia kencangkan sengatan cahayanya dengan terlebih dahulu menghalau awan gemawan di bawahnya. Siang kian sempurna. Cuaca panas paling purna. Menerpa luaran dan dalaman yang tersampir di tali jemuran. Membawa ribuan kunang-kunang di mata kalap si tukang cuci. Ia memupuk emosi.

Dalam rasa pening yang hening, ia ajak tali jemuran ikut dengannya nanti malam. Tali jemuran mengangguk. Keduanya sepakat akan bermain ayunan di dahan mangga belakang rumah. Benar saja. Esok hari semuanya jadi terang belaka. Si tukang cuci terayun-ayun kaku di dahan mangga itu. Tali jemuran menemaninya dengan setia. Menjadi jerat bagi leher jenjangnya. Keduanya sepakat, persetan luaran, persetan dalaman, terutama isi yang dipunyai sang majikan.

Belajar Menulis dengan Deskripsi Anatomi

MEMPERKAYA DETIL dalam tulisan, kau hendaknya latihan menulis deskripsi anatomi tubuh seseorang. Begitu petuah kiat-kiat menulis yang pernah kudengar dulu. Jika kau seorang laki-laki, yang layak kau deskripsikan adalah tubuh perempuan, jika tak ingin kau dicurigai macam-macam. Atau kalau kau punya daun telinga cukup tebal dengan gosip yang tak jelas, tak mengapa pula jika objek tubuh yang hendak kau deskripsi itu tubuh sesama jenis. Urusan belakangan jangan ambil soal dulu. Yang penting latihan menulis. Yang penting bisa menulis detil.

Untuk mendeskripsikan kecantikan seorang perempuan, barangkali kau bisa mengandaikan organ-organ wajah yang dia punya dengan berbagai pengandaian. Pengandaian dalam hal ini menjadi penting untuk memudahkan pembaca membayangkan bagaimana cantiknya si perempuan yang kau maksud. Ambil contoh, untuk mendeskripsikan bagaimana sempurnanya lengkung alis seorang perempuan. Kau bisa menulis, lengkung sepasang alisnya adalah pedang damaskus. Bangir hidungnya bagaikan ini atau itu. Atau jika tak ada kata-kata yang cocok dalam pengandaian itu, kenapa tidak kau setarakan ia dengan hidungnya orang-orang terkenal, katakanlah Raline Shah atau Sahila Hisyam atau perpaduan keduanya.

Kemudian mata. Mata adalah organ yang paling mudah untuk diekploitasi dalam hal memperkaya detil. Barangkali kau bisa memulainya dengan mendeskripsikan warna pupil mata, apakah segelap langit malam tanpa bintang, atau sewarna coklat yang melumer, dan lain sebagainya. Binarnya matanya juga jangan luput dari deskripsi itu. Begitu pun cara kerja kelopaknya, pula bulunya, cara ia mengerling, dan seterusnya. Perkara mata selesai, coba lanjut lagi dengan pipi. Apakah tembem dan ranum serupa apom seurabi. Atau menyerupai apa saja yang jika kau sepadankan bisa memudahkan pembaca membayangkan.

Turun dari pipi kau boleh meraba bibirnya. Kekayaan kontur bibir mestilah ditulis sedemikian rupa, jangan dilewatkan begitu saja. Biasanya organ yang satu ini punya keterhubungan dengan senyuman, tertawa, bentuk mulut. Tak berdosalah jika kau menggambarkan keseluruhannya dalam satu deskripsi sekaligus. Ambil contoh. Perempuan itu berbibir tipis, dengan garis bukaan antara yang atas dan bawah sedikit memanjang. Hingga ketika tertawa mulutnya akan terbuka lebar, menganga, sampai-sampai kau membayangkan abah kuala (mulut muara) telah berpindah ke wajahnya.

Yang biasa kena sorot dalam penggambaran gigi yang dipunyai seorang perempuan adalah kerapiannya. Jika ada sebiji gingsul, gingsul itu akan masuk dalam sorotan utama. Tapi tak banyak yang menggambarkan kedetilan akan plak yang dipunyai, tahinya, atau tentang kawat gigi yang dipasang secara serampangan. Yang membuatnya melulu mengatup mulut dengan tangannya ketika tertawa.

Di samping organ-organ utama dari wajahnya itu, detil lain yang mestinya perlu dideskripsikan adalah anak rambutnya, bentuk dahinya, tirus dagunya, atau jika ada sebiji dua biji panu di bawah tulang rahangnya, ya kenapa tidak kau jujur saja. Dalam hal ini jujur lebih penting ketimbang caramu mempertahankan kecantikan si objek. Kau tak perlu menyembunyikan panu itu, apalagi jika ianya jelas-jelas tampak dari jarak pandang yang dipisahkan meja kopi, tempat kau mengamatinya sedari tadi. Katakanlah begitu.

Selebihnya apa? Tidak ada. Tapi tunggu apa lagi. Mari menulis saja. Deskripsikkan siapa saja yang kira-kira pantas dan cocok dan sesuai dengan cara kerja khayalanmu. Atau jika tak ada siapa-siapa, kenapa tidak kau mencobanya pada si perempuan yang mendatangi tidur malammu. Perempuan yang berkali-kali telah membuatmu kebasahan ketika bangun pagi. Yang ketika mandi junub, kau menyesalinya dengan gumaman, “Kapankah mimpi itu jadi nyata?”

Hendak Kutulis Tentang Belajar Anatomi, Tapi Urung

DENGAN CELAKANYA Diyus menggangu proses aku menulis malam ini. Sudah kutulis sekalimat pembuka untuk paragraf pertama, dengan seenaknya dia memaksa aku membaca tulisannya yang sudah selesai. Mau tidak mau aku harus menurut. Membaca. Tapi urusannya tak kelar di situ saja. Malah berbuntut pada pertanyaan-pertanyaan darinya. “Gimana menurutmu tulisan itu? Apa yang kurang? Ada yang perlu kutambah tidak?”

Celakalah aku yang hendak menulis tapi kemudian konsentrasi yang kuhimpun sejak magrib tadi buyar oleh sebab suruhan penuh pemaksaan itu. Celakalah lagi ketika buntut pertanyaan-pertanyaannya tentang tulisannya mesti kutanggapi detik itu juga. Kupikir, inilah penderitaan hidup satu-satunya yang kualami dalam seharian ini. Sampai-sampai aku bertanya dalam benak sendiri, “Dosa apa yang kuperbuat ini hari?”

Continue reading “Hendak Kutulis Tentang Belajar Anatomi, Tapi Urung”

Beechung, Sarjana yang Enggan Pulang Kampung

BEECHUNG SEORANG sarjana lulusan fakultas ilmu sosial. Sejak selesai kuliah ia memilih tinggal di kota, enggan pulang kampung. Ilmu yang didapatnya di bangku kuliah memang agak susah diaplikasikan dengan kehidupan kampung. Konon lagi jika menyangkutpautkan ilmu yang didapatnya dengan bahasa sehari-hari orang-orang di kampung. Pelik betul. Itu sebabnya ia memilih tinggal di kota, pulang ke kampung halaman setahun sekali, pas hari raya, itu pun tak pernah lama.

Continue reading “Beechung, Sarjana yang Enggan Pulang Kampung”

Pendengar yang Baik Adalah yang Pasang Tarif

AKU TENGAH membakar sampah ketika ia datang dengan wajah semasam cuka, semengkerut kulit juruk purut. Melihat kedatangannya dengan tampang buruk begitu rupa, aku langsung ingat sepenggal lirik lagu Iwan Fals berjudul Panggilan Dari Gunung. “…Kau bawa persoalan, cerita duka melulu.” Benar adanya. Belum lagi kubalas sapaan basa-basinya, ia telah bicara tanpa putus. Topiknya beragam. Tapi semuanya punya sangkut paut dengan dirinya, berupa perihal-perihal yang menjadi beban pikirannya.

Continue reading “Pendengar yang Baik Adalah yang Pasang Tarif”

Menjadi Orang Jakarta

BARU DATANG dari kampung, setahun, dua tahun tinggal. Tak lantas langsung bisa menjadikanmu sebagai orang Jakarta. Menjadi orang Jakarta banyak syaratnya. Apalagi jika standar rujukan yang dipasang adalah apa yang sering ditayangkan di televisi, terutama program-program hiburan dan gosip. Butuh banyak modal untuk bisa disebut sebagai orang Jakarta. Modal uang tentu saja.

Sebagaimana sudah jadi rahasia umum, Jakarta akan menyingkap segala rahasianya atas nama uang. Dan kepada uanglah Jakarta kerap menanggalkan jubah harga diri. Atau jika ada yang sanggup bayar lebih, kenapa tidak ia telanjang sekalian. Biar puas sesiapa yang suka jajan.

Pergi ke Jakarta dengan maksud mencari uang adalah satu di antara bahagian perilaku paling mulia. Tapi kemuliaan yang ditawarkan Jakarta bagi mereka yang mencari uang di tubuhnya adalah kepedihan. Keperihan. Hal yang akan dengan gampang dirasakan sekira kau datang dengan tangan kosong, otak kosong. Sementara keahlian yang kau punya berupa keahlian menguras tenaga. Jadi kulilah kau di sana.

Jpeg

Untuk bisa melulu kenyang, Jakarta kerap meminta tumbal. Tumbal itu kian bertambah-tambah apabila setelah urusan lapar selesai, kau berharap sedikit kesenangan. Lalu bertambah lagi jika kau meminta kenikmatan. Kemudian kian membuncah ketika kau minta ketenaran. Begitu seterusnya. Dan seterusnya. Sampai-sampai pada suatu waktu kau tersadar bahwa segenap tubuhmu, begitu pun pikiranmu. Telah dikuasai utuh oleh sesuatu kuasa tak kasat mata. Jakarta menjeratmu luar dalam. Kau tersuruk dalam jurang terdalam dan tenggelam.

Tapi tenang. Untuk yang satu itu Jakarta tidak pernah menjerat orang-orang yang bersiteguh dengan harga diri. Dalam hal ini Jakarta akan pilih kasih. Terutama kepada mereka yang telah menggadaikan benak, hati dan pikirannya pada nafsu dan ambisinya sendiri. Jakarta akan mendekap erat orang-orang seperti ini dengan rasa senang tanpa ampun.

“Mari. Datanglah. Akan kusambut siapa saja yang datang padaku. Akan kuberikan padanya segala bentuk kenikmatan dunia. Kenikmatan tak berperi. Asalkan mereka mau menanggalkan jubah harga diri, asalkan mereka tak ambil peduli meski sudah jadi budakku di sini,” gumam Jakarta dalam hati menyambut pendatang baru.

“Untuk menjadi Jakarta, kau mesti punya ambisi dan jangan tanggung-tanggung. Jakarta tak pernah suka orang-orang serba tanggung. Yang serba tanggung hanya akan jadi kecoa saja. Tidak lebih!” Begitu petuah seseorang yang merasa diri telah jadi Jakarta setelah meninggalkan kampung halamannya. Setelah menanggalkan tekanan huruf T dari lidahnya.

“Kenapa harus menjadi Jakarta?” Tanyaku waktu itu.

“Karena kau sudah datang ke Jakarta,” jawabnya sigap.

“Tapi aku kesini bukan untuk menjadi Jakarta. Aku hanya ingin jadi diri sendiri saja.”

“Kau punya apa? Berapa banyak uang yang kau bawa?”

“Apakah di sini, semua bisa selesai dengan uang?”

“Semua bisa selesai dengan uang. Bahkan ketika kau sedang malas cebok setelah berak. Kau bisa mengupah tukang cebok nantinya.”

“Sampai segitunya?”

“Kau mau minta lebih? Nanti. Cebok dulu. Bayar. Kemudian nego lagi. Tawar harga lagi.”

Baru datang dari kampung, sepekan dua pekan tinggal. Seseorang yang kutemui di Jakarta ajak aku minum kopi bersama. Di sebuah cafe seputaran Kalibata. Sampai di sana, kudengar ceritanya tentang Jakarta. Ceritanya tentang malam-malam di Jakarta. Dua jam bersamanya aku merasa semaput. Yang benar-benar kusimak dari semua ceritanya adalah kata-kata yang ada huruf T di dalamnya. Terdengar benar ia menyebut kata-kata itu dengan sangat hati-hati. Barangkali ia takut jika T di setiap kata-kata itu terlalu mengeluarkan bunyi.

Petang di Bivak Emperom

BIVAK EMPEROM akan memulai denyutnya setelah tengah hari. Dari subuh ke pagi, tempat ini tertidur dengan pulasnya, tanpa ada satu pun kuasa kebisingan atau kegemparan bisa membuatnya terbangun seketika. Petang hari adalah waktu di mana Bivak Emperom berdenyut dengan sempurna. Orang-orang beraktivitas layaknya aktivitas pegawai negeri setelah upacara senin pagi. Titik jedanya pas azan maghrib. Lantas denyut itu berlanjut lagi hingga tengah malam, tak jarang sampai ke dini hari.

Continue reading “Petang di Bivak Emperom”