Catatan Ini Kutulis Ketika

AKU TULIS catatan ini ketika. Hujan turun sebentar saja dan angin tengah ribut-ributnya di luar rumah. Itu bersamaan dengan naiknya sebuah status media sosial seorang seniman yang merasa diri sudah benar-benar seniman sejati hanya gara-gara pernah menulis sebiji dua biji puisi, yang mengatakan perhelatan PKA kali ini gagal. Menurutnya kegagalan itu disebabkan banyak hal. Ia menjabarkannya satu-satu, tapi satu hal yang tidak mau diakuinya di situ. Bahwa kegiatan akbar itu gagal bersebab tidak ada nama dia dalam deretan panitia penting.

Continue reading “Catatan Ini Kutulis Ketika”

Trik Picik Menulis Panjang

DALAM PERKARA menulis bebas ada trik yang jika kau terapkan dengan benar akan menghasilkan tulisan panjang. Jumlah katanya dijamin akan berkutat di atas lima ratusan. Trik ini, meski agak sedikit picik, sederhana saja. Tanpa harus pusing-pusing memikirkan ide ini itu. Tanpa menuntut pengadaan modal data anu ini, dan lain sebagainya.

Bagaimana trik yang kumaksud itu? Karena triknya cukup sederhana, baiknya tak kukata secara gamblang begitu saja. Melainkan boleh kau dapat, sekiranya kau jeli, dengan membaca beberapa cerita kecil di bawah ini. Mari. Sila nikmati.

Continue reading “Trik Picik Menulis Panjang”

Sunyi Pecah di Bivak Emperom

TENGAH MALAM di Bivak Emperom. Markas Komunitas Kanot Bu. Di ruang bawah. Ruang yang kerap berganti nama sesuai kegiatan yang tengah berlaku di Kanot Bu. Sesekali diberi nama Bilik Roepa PaskaDOM. Tapi ketika berlangsung beberapa kelas namanya berubah jadi Ruang Studi Jama’ah. Begitulah, aku di sini malam ini. Memelototi layar laptop sejak dua jam tadi. Ditemani @sangdiyus yang juga melakukan hal sama. Menulis entah apa.

Tadinya, ihwal aku memelototi layar laptop hendak menulis satu artikel apresiasi. Tentang kegiatan seni rupa. Tapi sedari tadi baru selesai satu paragraf belaka. Mentok sejak satu jam lewat. Oleh sebab kekurangan data, terutama tema kegiatannya. Acara seni rupa kumaksud itu sudah berlangsung dalam dua tiga hari ini. Tempatnya di Taman Budaya. Masuk dalam rangkaian besar perhelatan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) 7. Namun dilihat dari para perupa yang berkumpul, medium yang dipakai, dan rupa-rupa objek yang mereka gambar, boleh dikata, kegiatan tersebut merupakan satu pesta mural paling akbar yang pernah ada di Banda Aceh.

Continue reading “Sunyi Pecah di Bivak Emperom”

Pentingnya Monumentasi Istilah Jenderal Kardus dan Jenderal Baper

SETELAH BANYAK orang–mulai dari pakar hingga para awam berspekulasi. Jelas sudah calon wakil presiden yang digandeng Jokowi sebagai tandemnya untuk pemilihan umum 2019 nanti adalah Kyai Ma’ruf Amin. Lawan tandem Jokowi – Ma’ruf Amin, sudah jelas juga siapa. Tak lain dan tidak bukan, Prabowo Subianto. Calon presiden gagal pada pemilu 2014 lalu. Kali ini akan naik lagi. Hanya saja tandem yang dipilihnya belum pasti siapa. Kecuali sinyalemen kabar yang beredar di pelbagai laman berita nasional, terdapat beberapa nama yang akan menjadi pasangannya. Sandiaga Uno. Agus Harimurti Yudhoyono–AHY.

Continue reading “Pentingnya Monumentasi Istilah Jenderal Kardus dan Jenderal Baper”

Narasi Kota Kita: Di Lampu Merah Jalan Sudirman

AKU KELUAR rumah tepat ketika azan Isya menggema di langit Banda Aceh. Aku keluar rumah hendak ke kedai kopi langganan. Rutenya melewati tiga kelokan lorong kampung, tembus jalan besar. Berhenti di lampu merah di satu perempatan. Ambil lurus. Lalu tanpa perlu tancap gas aku menghidupkan lampu tanda kanan untuk kemudian balik arah. Masih dengan laju santai, sepeda motor tinggal kuarahkan ke kiri, karena diseberang aku berbelok arah itulah letak kedai kopi itu.

Continue reading “Narasi Kota Kita: Di Lampu Merah Jalan Sudirman”

Menjadi Pahlawan Bagi Seekor Biawak Malang

ADA BIAWAK dalam kepalaku. Seekor saja. Datang entah dari mana, tahu-tahu sudah ada begitu saja. Meringkuk dalam batok kepala. Sesekali melata, menjelajahi rimba otak yang basah, penuh lendir. Ketika ia melata, saraf-saraf di kepalaku menegang. Aku pusing bukan kepayang.

Hari pertama ia ada, aku membiarkannya, tak menggubris sama sekali. Sebab kupikir, biawak itu hanyalah halusinasi belaka. Apa lagi setelah kuingat-ingat, aku memang pernah melihat biawak beberapa kali melintas di belakang rumah. Tapi kemudian, apa yang kuanggap halusinasi ternyata salah besar. Biawak itu adalah senyata-nyatanya biawak yang hidup di rawa-rawa daerah pesisir atau di semak belukar sebuah tanah kosong sekitar pemukiman warga. Dan aku benar-benar menyadari keberadaannya ketika ia pertama kali keluar dari ringkukannya.

Continue reading “Menjadi Pahlawan Bagi Seekor Biawak Malang”

Blog Rekomendid Untuk Di Baca-baca

Membaca-baca blog pribadi orang lain adalah satu cara belajar menulisku yang sudah kulakukan sedari dulu. Ada banyak alamat blog yang sengaja aku bookmark di perangkat lunak selancaran dunia maya seperti google chrome dan mozilla fire fox. Belajar dari blog pribadi seseorang, terlebih pemilik blog tersebut adalah orang-orang yang telah khatam dengan urusan dasar dunia kepenulisan, terasa lebih mudah kupahami. Itu tak lain karena biasanya, di blog pribadi itulah mereka menulis secara lebih lepas, menulis dengan segenap unsur subjektivitas yang dipunyainya. Di blog pribadi pula tulisan-tulisan milik seorang penulis tampak lebih orisinil sejak keluar dari pikirannya, tidak mendapat tambalan penyuntingan oleh editor atau pihak kedua. Dari sanalah cara-cara mereka merangkai kalimat lebih enak dicerna. Termasuk pula penggunaan kosa kata tertentu di dalamnya.

Continue reading “Blog Rekomendid Untuk Di Baca-baca”

Unfinished Biography: Di Bawah Kibaran Kain Sarung Nyi Miriam

SETELAH BERBASA-BASI perihal kedatanganku menemuinya langsung di tempat tinggalnya ini, Nyi Miriam menyilahkanku masuk ke rumahnya. Ajakan yang membawaku harus menaiki tujuh anak tangga. Ajakan yang membuatku terperanjat pucat pada anak tangga ketiga, ketika dengan tak sengaja aku mendongakkan kepala. Nyi Miriam, lazimnya tuan rumah, naik terlebih dahulu dan tepat ketika aku menengadah ia telah berada di anak tangga ke enam, saat yang sama ketika angin petang dari hamparan sawah mengibarkan kain sarungnya.

Itu kibaran hebat hingga menampakkan semesta isinya. Semesta isinya yang samar, remang-remang, tapi dengan serta merta membuatku kembali merasa mual untuk kedua kalinya sejak dekapan itu, oleh sebab: dalam dongakan kepala penuh ketidaksengajaan itu, aku menemukan pangkal paha nenek tua ini tidak terbungkus oleh apa pun jenis kain yang serupa dalaman. Apakah itu kancut, cawat, atau kantong air seni sekaligus tahi khusus jompo yang oleh orang-orang sekarang menyebutnya pampers.

Continue reading “Unfinished Biography: Di Bawah Kibaran Kain Sarung Nyi Miriam”

Unfinished Biography: Tentang Nyi Miriam, Sekilasnya Saja

NYI MIRIAM telah tua. Sudah nenek-nenek. Umurnya tak tercatat dalam dokumen apa pun. Posturnya tinggi. Apa yang sangat mungkin telah membengkokkan tulang punggungnya adalah jumlah usianya. Ketika berdiri ia hampir menyerupai seorang muallaf yang sedang belajar ruku’ pada kali pertama. Matanya awan mendung. Tapi sorotnya masih setajam matahari pagi pada bulan Maret yang kering. Begitu pun dengan rambutnya. Sanggulannya dibelit pada sebatang tusuk konde dari cangkang kura-kura, adalah jenis rambut yang dipunyai kebanyakan orang-orang yang kelebihan umur.

Continue reading “Unfinished Biography: Tentang Nyi Miriam, Sekilasnya Saja”

Belajar Menulis Bebas: Tamasya Pikiran Pada Kekosongan

AKU INGIN menulis bebas. Mengalir sebebas air sungai dari hulu ke hilir. Mengudara serupa kepak sayap capung. Ringkih. Tapi dengan segenap keringkihan itulah ia mengada. Dan umat manusia mengenalnya, memberinya nama, dan ahli hewani mengudap banyak ilmu pengetahuan atas keberadaannya. Aku ingin menulis bebas. Merdeka. Dan tulisan yang terbaca adalah perayaan dari kebebasan yang ada. Barangkali itu tak semirip perayaan budak belian dari tuannya. Tapi kebebasan patutlah diselebrasi sedemikian rupa, bagaimana pun caranya.

Tamasya. Inilah saatnya mengajak pikiran bertamasya. Atau mungkin membiarkannya bertamasya sendirian saja, dan aku duduk di sini, menghadapi layar putih komputer jinjing sambil menunggu pikiran pulang membawa apa-apa yang dilihatnya. Apa saja yang dilihatnya, oleh-oleh pikiran sehabis pelesiran, kuambil satu-satu, kutimang-timang, kutimbang-timbang. Segalanya adalah bahan baku bagi rangkaian kalimat yang tengah kau baca. Segalanya adalah bahan baku bagi mengadanya sebuah cerita.

Continue reading “Belajar Menulis Bebas: Tamasya Pikiran Pada Kekosongan”